http://detamorfosis.blogspot.com/ |
 |
| 01 November 2007 |
| Rahim Kemarau |
kulupakan hari-hari yang lewat agar aku dapat hidup kembali di hari ini kubuang puing waktu ke kuburannya yang paling rahasia barangkali serahasia mimpi yang ada kemudian hanyalah kesamaran semakin samar dan... hilang*
tapi dia tidak sepenuhnya hilang. gerimis yang tiba-tiba merintih pagi ini, yang lahir dari rahim kemarau, datang seperti sapa, memintaku mengingatnya. kepedihan, entah kenapa, selalu punya jalan untuk tetap bertandang.
"ia, aku senang kok sempat jadi hujanmu. makasih juga telah dibuatkan tulisan seperti itu."
aku hanya bisa menulis, debar. dengan itulah aku mengobati semuanya. membuat yang "sempat" bisa jadi abadi, yang sementara dapat bertahan masa. siapa tahu, tulisanku dapat membuat hujan mau tercurah selamanya.
"hujan akan selalu ada, ia. meski bukan aku lagi. bukan aku lagi..."
******
"kamu bisa ikhlas kan, ia?"
bukan bisa. tapi harus, debar. hanya dengan ikhlas aku bisa menerima apa pun yang terjadi sebagai jalan yang mesti dilalui. menyadari diri hanya lintasan-lintasan dari apa pun. jika yang memintas itu mau berlabuh, menetap, atau hanya lewat, semua sudah ada garisnya. semua harus berjalan...
"iya ya, bener banget."
setiap sahabat adalah rahmat. setiap rahmat adalah harap, debar...
"dan setiap harap pasti berjawab, kan?"
dan harap itu cintaku, tidak bicara tentang keabadian, tapi kebersaatan, keterkejutan, nikmat kejap, syukur dalam keterbatasan.
"bagaimana syukur dalam keterbatasan, ya?"
iya, dengan meyakini, memang kebersaatan itulah yang menjadi hakku. singgahmu yang sebentar itulah milikku. aku tak boleh berharap lebih. aku harus mampu berterimakasih dengan meski....
*******alam memang contoh terbaik dari keajaiban. jika hujan bisa lahir dari rahim kemarau, tawa pun pasti bisa terbit dari fajar airmata. pelan-pelan, aku patrikan hal itu di benakku. aku ikhlaskan dia pergi, tanpa sesal, tanpa pedih. aku kenang semuanya dengan tawa, ucap syukur, dan rasa lega, seperti keleluasaan rasa yang hinggap saat pertamakali kukecup matanya.
berjalanlah, kasih. aku tak memberatimu lagi. karena seperti katamu, engkau tetap akan pergi, kini atau nanti. bergeraklah, raihlah kegembiraanmu. yakinlah, dari tiap sujud sempurnaku, akan tetap lahir doa-doa terbaik tempaan ribuan tahun, yang memanteraimu, menjagamu, agar tetap bahagia, seperti saat sebelum engkau denganku berjumpa. bergegaslah....
*) dikutip dari ingatan, satu pasase dalam novel segi empat patah kaki. Tulisan ini milik asli Aulia Muhammad - www.lingkardiri.blogspot.com/Labels: Asri Tadda Qauliyah |
posted with Love @ 5:17 PM   |
|
|
|
| 20 August 2007 |
| Pada Sore di Tamalanrea |
Sepoi angin Tamalanrea Membawa semerbak wangi tanah Tercium lepas rinai senja hari
Di hati, ada bayangmu, tersenyum;
"Selamat sore, Kekasih terindah!"
Tamalanrea, 19-08-2007Labels: Asri Tadda Qauliyah |
posted with Love @ 10:44 PM   |
|
|
|
| 02 August 2007 |
| Kekasih di Seantero Waktu |
Jalan panjang menuju "rumah" kita memang belum pasti kekasih Namun perjuangan dan semua suka duka yang menyertai tapak hati kita kian menunjukkan nuansa dewasa. Menuju satu hati, sehati! Pada setiap jeda, saat benak dipenuhi beban hidup, kau selalu hadir mengisi jiwa, bagai air segar yang mendinginkan disiram pada bunga di taman yang terpanggang terik mentari. Kekasih, engkau selalu hadir di hati, meski kularut dalam aktivitas dan rutinitas ini. Engkaulah, kekasih di seantero waktu!Labels: Asri Tadda Qauliyah |
posted with Love @ 3:25 AM   |
|
|
|
| 02 July 2007 |
| Belajar (Lagi), Demi Cinta! |
Masih teringat : Seperti pernah kubermimpi menyaksikan cincin kita itu retak berkeping, namun tak jua berpisah... Sedikit aneh, tapi menyisakan banyak makna mendalam. Hari-hari terakhir memang sedikit melelahkan, tapi bukankah kita orang yang selalu mengaku "kuat", dan karenanya tidak akan mudah tunduk hanya karena "angin" kecil seperti itu? Benar katamu kekasih. "Kadang orang kuat pun butuh tempat untuk mengeluh"... Mendengar dan merasakan itu darimu, serasa tak ada lagi yang bisa terucap, selain : Kumenyayangimu! Tidak mentong!Labels: Asri Tadda Qauliyah |
posted with Love @ 8:10 PM   |
|
|
|
| 25 April 2007 |
| Goresan Seorang Kekasih |
Ini adalah goresan dari seorang kekasih yang pada setiap hembusan napasnya adalah cinta untukmu, dan pada segala harapannya hanyalah untuk bahagia bersamamu.
Ada degup rindu yang tak pernah henti di hati. Syahdu malam tak lagi mampu merubahnya kantuk. Aku tetap terjaga dalam dekapan cinta dan hangatnya senyummu...
Semakin kumengenalmu, semakin dalam perasaan ini menghujam jiwa. Mencintaimu, pada setiap desah napas. Menyayangimu, pada semua ruang hidup. Terima kasih, kekasih...Labels: Asri Tadda Qauliyah |
posted with Love @ 5:55 PM   |
|
|
|
| 12 December 2006 |
| MENIKAHIMU |
| Saya sudah berjanji untuk hal ini. Tak usah khawatir sayang. Mari menyiapkan "hidup" menuju kesempurnaan yang kita dambakan. Luv u. Labels: Asri Tadda Qauliyah |
posted with Love @ 12:38 AM   |
|
|
|
| 22 February 2006 |
| Kepada Kekasih |
Kekasih... Seharian tanpa kabarmu bagaikan mengarungi laut tanpa tepian, untungnya badai tidak segera datang di tengah ambigu dan belitan rasa kangen. Ada auramu yang masih bersemayam di jiwa, tetap ia menjadi redup jika getar napasmu tak ku rengkuh.... .............pada titik perjumpaan, kumenantikan hadirmu dalam hangatnya cinta.........Labels: Asri Tadda Qauliyah |
posted with Love @ 12:03 AM   |
|
|
|
| 17 February 2006 |
| Kembali.... |
 Terima kasih telah kembali. Kini hari yang kemarin engkau sisakan buatku dalam sendiri nan gundah, perlahan semoga berganti ceria dan bahagia kembali. Ada jejak yang kemarin sangat terasa engkau tinggalkan di hati, kian menunjukkan betapa amat berartinya dirimu dalam hidupku. Sayang, selamat datang kembali di relung ini...
============================= Bandara Hasanuddin, 17 Feb 06, 21.16 Wita
Labels: Asri Tadda Qauliyah |
posted with Love @ 11:30 PM   |
|
|
|
| 14 February 2006 |
| Kangen |
Dinda, kepergianmu telah menyadarkanku betapa sesungguhnya auramu tidak bisa tergantikan oleh yang lain. Lambat rasanya hari berganti dan belitan kangen yang menggurita di hati, perjalananmu ke negeri seribu masjid di timur seakan membuatku "sendiri" menikmati waktu. Tahukah bahwa, dengan segala daya yang kumiliki, di sini, gundah itu ku coba lawan dengan sejumlah "mimpi" tentang masa depan yang bahagia? Tapi kangen itu...............alamak! **************************************Labels: Asri Tadda Qauliyah |
posted with Love @ 11:40 PM   |
|
|
|
| 30 January 2006 |
| Hijrah |
.................. Gerak sejarah adalah keniscayaan dan pergiliran masa menjadi penandanya. Dalam setiap alur hidup, menengok setting lampau terkadang memberi inspirasi prospektif bagi pengembaraan jiwa di waktu-waktu mendatang. Dinda, selamat memasuki Tahun Baru Hijriyah, 1 Muharram 1427 H, Semoga spirit dan kemuliaan Muharram senantiasa melingkupi aktivitas kita ke depan, dan semoga ku selalu bisa menjaga keistiqomahan dan membuktikan kecintaanku padamu, meski itu di tengah aral. Mari berhijrah dalam cinta dan indahnya kasih sayang... Labels: Asri Tadda Qauliyah |
posted with Love @ 8:17 PM   |
|
|
|
| 07 January 2006 |
| 2005-2006 |
"..........Dinda, dalam kegamangan penghujung tahun ini, ku masih yakin bahwa kelak, semoga Tuhan mengizinkan, segala cita dan cinta yang kita miliki akan maujud dalam bahagia. Jujur, saat ini ku merasa hidup dan semakin positif, terima kasih telah menemani hari-hariku di 2005, semoga kita semakin satu di 2006 ini. Dalam setiap peluk dan cium kusembahkan lantunan shalawat, memuja harapan agar termunajabkan oleh Ilahi Rabbi, semoga KITA dirahmati-Nya dalam cinta."
---------------------------------------- Makassar, 31 Desember 2005 Labels: Asri Tadda Qauliyah |
posted with Love @ 1:16 AM   |
|
|
|
| 27 December 2005 |
| Sakit .... |
 Khawatir juga rasanya saat badan menunjukan indikasi malaise, tidak enak badan, nafsu makan memudar, demikian juga dengan semangat beraktivitas. Sedikit ada ketakutan terjangkit demam berdarah yang sekarang ini lagi endemis di asrama mahasiswa. Apalagi si Levy, pejantan gagal dari FKM itu, baru tiga minggu keluar dari rumah sakit karena terserang DBD. Asal tahu saja, kamar si Levy itu berada dua kamar di sebelah kamar tercintaku. Kalau masuk rumah sakit karena indikasi ini, jadi deg-degan. Ngeri rasanya akan diinfus, atau sekalian dipasangi cateter untuk memudahkan buang air kecil. Sedikit menguak keegoisan profetik, katanya calon dokter (Insya Allah, doakan ya!) tidak boleh sakit, karena kalau jatuh sakit, gimana kata orang-orang nantinya? Hahaha, adagium yang terkesan mendewakan dokter, padahal dokter juga manusia…bisa sakit, juga bisa mati! Saat-saat menjelang dan sedang sakit, memang membawa banyak makna. Karena tidak ada semangat beraktivitas – meskipun di luar banyak agenda penting yang menunggu – jadinya hanya ngasoh di asrama, sendirian. Tapi semua ini kian membuatku paham, betapa berharganya kondisi sehat, yang pada rutinitasnya jarang sekali kita sadari. Kata bijak, orang jatuh sakit karena “ketidakseimbangan” di dalam hidupnya, baik yang menyangkut fisik, psikis maupun lingkungan sosialnya. Entahlah, rasa berat di kepala ini apakah karena faktor fisik atau psikis? Padahal, rasa-rasanya masa bulan madu jadian saya belum berakhir. Ah, nyambung di mana? Saat terjatuh sakit, memang tidak banyak yang bisa kita lakukan. Aktivitas normal seperti biasanya menjadi sangat berat untuk dilanjutkan. Mungkin Ilahi tengah mengkondisikan kita untuk sejenak beristirahat dari semuanya, sembari kembali mengingat-Nya di relung jiwa yang mulai kerontang. Hari-hari seakan lambat lajunya, menghitung perjalanan waktu menjadi pekerjaan menjemukan. Ah, sakit memang memaksa kita melakukan banyak evaluasi diri. (Saya jadi ingat, beberapa Syaikh ahli pengobatan mengatakan bahwa, dengan mengenal dan memahami berbagai ketimpangan dalam diri dan jiwa, selama menderita sakit, maka rentang sakit dan progressnya dapat kita pendekkan dan segera merangkak ke kesembuhan secara sadar. Secara fisik, gejala-gejala yang tampak dapat diobati dengan beberapa model terapi, tetapi sesungguhnya yang paling penting adalah mengenali ketimpangan non fisik, bisa berupa kejiwaan maupun konflik psikis). Apa yang dapat kulakukan? Ohya, kembali tentang masa bulan madu dan sakit yang kuderita. Oktober kemarin, ku jadian dengan seseorang yang telah membuatku “gila”, dalam batasan : belum pernah rasanya mencintai seseorang seperti yang saat ini kurasakan terhadapnya! Jadinya, kuyakinkan diri dan hati untuk mengkomitmenkan semua yang bersamaku untuk meminangnya menjadi ibu dari calon anak-anakku kelak, Insya Allah (doakan lagi ya). Tapi, tentang ini, hati-hati. Jangan sampai ketahuan bahwa aku tergila olehnya. Asal tahu saja, sense of GR dari calon istriku ini bisa terbilang wah!... Akunya sih alumni summa cum laude dari sekolah kege-eran yang pernah didirikannya sendiri. Subjektif bo! Tapi, karena semua itu, rasa cinta dalam hati kian tumbuh dan bersemai, semoga menjadi lebih dewasa dalam usia-usia selanjutnya. Yang agak lucu, saya sakit justru ketika masa-masa indah pacaran setelah sekian lama terombang-ambing oleh kejomblohan dan indahnya dijadikan fans oleh junior-junior. Masa jombloh yang kurang lebih membuat banyak perubahan dalam diri. Kesadaran untuk tidak lagi mengulang kejahilan dalam tingkah di “koridor” yang satu ini muncul saat masa-masa kronik jombloh. Jadinya, saat itu, kuberjanji kepada diri, juga sempat terucap secara lisan dalam rapat internal Stem Cell, bahwa kutakkan lagi mengulangi segala kebejatan kelaki-lakian yang selama ini kutorehkan. Meskipun saat itu pun ku tak begitu yakin bahwa apakah aku benar-benar telah melakukannya pada masa sebelumnya. Tapi sudahlah. Kini masa telah berganti. Ada masa depan di depan mata yang segera harus direngkuh, tentunya dengan tetap bersamamu. Perempuan yang telah membuatku luluh dalam ego, mencairkan keangkuhan maskulinitas, menuju titik pertemuan-penyatuan. Kuyakinkan diri untuk semua itu! Rasa sakit saat ini, mungkin hanya pertanda ku tengah “dicuci” untuk benar-benar suci dan murni mengarungi perjalanan panjang bersamamu. Dalam sakit sekarang, kuberdoa semoga perjalanan ini bukan saja hanya kunikmati sendiri, tetapi juga mampu membuatmu bertumbuh menemukan eksistensi kefitrahanmu. Kumengenalimu dalam kesejatianku, menelusup dalam jejak-jejak ekspketasi lisan dan yang tergambar indah di setiap pelupuk mata sipitmu, membuatku benar-benar merasa hidup. Terima kasih telah menemaniku dalam sakit untuk segera sembuh dan beraktivitas kembali. Semangat dan spirit yang engkau alunkan dalam setiap tarikan napas, kini membuatku bisa berdiri tegak menegakkan cita dan asa, karena keyakinanku untuk bertenang diri dan jiwa bersamamu, hingga selamanya.. Terima kasih Tuhan telah membuatku jatuh sakit dan dapat merenungi setiap jejak-jejak makna yang engkau torehkan lewat tubuh mungil tak berdaya ini. Terima kasih Rabb.
Tamalanrea, 16 Desember 2005Labels: Asri Tadda Qauliyah |
posted with Love @ 10:19 PM   |
|
|
|
|
| Persimpangan |
 Terkadang kita merasa terlalu berat melewati panjangnya hari, mengisinya dengan segala yang bisa kita lakukan untuk buktikan cinta, dan karenanya kita lantas berpikir untuk segera menyudahinya lewat jalan pintas, sementara – konon – cinta itu menjadi indah jika perjalananannya kita maknai dengan tulus, sejauh apapun jaraknya. Acapkali pula kita bertanya-tanya apakah waktu telah begitu kejamnya sehingga tidak lagi menyisakan ruang bagi ekspresi jiwa, dan karena itu kita harus menaklukkannya lewat sebait ikrar kesetiaan di depan para saksi pada sebuah hari yang dinantikan? Dalam kegamangan ini, kucoba merangkai segenap bongkah pengharapan tuk jadikanmu yang terindah sekaligus yang terakhir dalam sejarah petualangan kelaki-lakianku. Meyakinkan diri sendiri memang tidak mudah, tetapi dengan menempatkanmu dalam buritan utama hati mungkin akan banyak membantu, sedikitnya untuk setiap saat mengingatkanku akan komitmen “ke-kita-an” yang kemarin kita agungkan. Pun, di sini, dalam relung di mana bayangmu kian menghiasinya, kunyatakan kecintaanku yang sesungguhnya, dan –semoga bumi mengamininya– kelak “meminangmu” menjadi ibu bagi calon anak-anak kita, mendidiknya hingga dewasa dan menunjukkan pada mereka pilihan-pilihan hidup. Hanya denganmu, kejujuranku terkuak tulus tanpa tendensi, di sini, dalam relung jiwa yang telah mulai engkau hidupi. Terima kasih cinta.
Asta Qauliyah, 07 Desember 2005,01.40 wita, IB-205 TamalanreaLabels: Asri Tadda Qauliyah |
posted with Love @ 10:12 PM   |
|
|
|
|
| Di Sebagian Sisa Magrib |
 Di sebagian sisa magrib, Kucoba membacamu dengan hati:
Gelisahmu adalah galau kaum muda yang belum dihinggapi usia Dan karenanya, rasa di jiwamu pun seakan meledak-ledak, memaksa setiap jengkal pintu dan jendela2nya berderit membuka diri paksa! Sedikitpun engkau masih hanyut dalam egois kecintaan yang engkau gemborkan; lewat puisi, lewat opini atau bahkan dengan symbol-simbol busanamu yang norak… Sketsa pikiran yang coba kau hadirkan justru semakin menjelaskan kepura-puraanmu enggan menikmati hidup dengan cara yang sangat sederhana, atau engkau tidak punya cukup energi untuk itu?
Pada sisa cahya lembayung di tepian senja Kucoba mamahamimu dengan kearifan yang tersisa:
Mungkin kau belum merasa bahwa juga ada benak2 kegelisahan yang menggayut pada setiap sudut hariku dan hari banyak sahabat yang lain; kegelisahan yang dihiasi oleh hanya sedikit keromantisan namun membutuhkan tidak sedikit keberanian dan kepercayaan atas komitmen perjuangan Barangkali juga kau merasa belum saatnya membuka diri dan mencoba mendamaikan hatimu lewat sekulum senyum tulus keperempuanan yang kau pampang di teras-teras kelelakian saat malam perlahan hadir Mungkin juga benar menganggapmu bagai sebongkah batu yang slalu berharap dapat diterima bumi tanpa pongah, sementara setiap waktu bulir-bulir hujan jatuh menimpamu dari tingginya langit yang perlahan namun pasti kan menguraikan wujudmu. Mungkin juga hujan itu bukan air yang mengalir, tetapi hanya sebagian kristal apati dari dalam jiwamu yang merangkak ke perut bumi dan berubah menjadi uap gelisah terus menjadi hujan dalam benakmu; atau juga mungkin benar membayangkan hujan batu telah menimpa ke-batuan-mu?
Di sisa lembaran yang tergesa dikejar baying-bayang waktu Kuberusaha menulismu dengan harapan:
Bukan Gie, Khairil Anwar atau Marah Rusli – tokoh dalam iklan Kompas 2005 – yang berhak mengitari setiap jejak-jejak kreativitasmu dan membuatmu terjerembab dalam dinginnya kesendirian benakmu yang memenjarakan bukan saja pikiran2mu, tetapi juga membekukan perasaan cintamu pada setiap ruang-ruang manusiawi yang kau singgahi, bukan pula mereka yang setiap saat membawa ceramah-ceramah ilmiah di acara pergerakan kemahasiswaan atau mereka yang dengan sangat oportunisnya menunggangi momentum untuk sekadar menjadi tokoh-tokoh mahasiswa karbitan! Engkau adalah engkau; dirimu sendiri yang terlahir sebagai benih cinta orang tuamu, dan karenanya dengan cinta itu pula engkau mesti bangkit dari keterpurukan asamu untuk kembali menunjukkan siapa dirimu sebenarnya. Engkau tidak sendiri berhadapan dengan jeruji penjara pemikiran yang absurd, di belakang dan di sekitarmu bergelimpangan kaki-kaki manusia dengan setumpuk harapan merdeka dalam benaknya, meskipun tidak jarang dari mereka bernasib naas; hanya berupa jasad yang melenggang di atas pentas pergerakan, tanpa nurani dan ekspresi kecintaan atas pembebasan; pembebasanku, juga pembebasanmu! Yang engkau, mereka dan aku butuhkan hanyalah sedikit keterbukaan, kejujuran dan kepolosan yang fitrawi, satu sama lain, tidak lebih.. Dalam kesendirian kita, semoga sedikit derit pintu hati bisa menyisakan sepetak ruang di jiwa untuk berdiskusi dan saling bertukar harapan; menafikkan mereka yang belum mengerti tentang kita apa adanya, menghapus nisan-nisan pemikiran mereka yang telah usang di makan interupsi zaman, dan menyisakan lagi sedikit ruang (tapi jangan terlampau luas), bagi mereka yang masih polos dan belum saatnya mengerti tentang kita ada apanya… Engkau sudah terlalu tua untuk menghabiskan sisa-sisa hidupmu hanya dengan berkeluh-kesah, mendesahkan keperihan akan pengkhianatan dan kesendirianmu, serta menyanyikan lagu pasrah kekaburan logika kewanitaanmu. Dan aku, meskipun juga sudah terpaut jauh darimu, masih punya sedikit asa untuk mengajakmu beranjak dari dudukanmu yang menyiksa, mencari dunia baru untuk kita tapaki sama-sama; bukan dalam kesendirian, tetapi bersama angan-angan yang kemarin telah membesarkan jiwa kita. Kelak, kita ‘kan bersorak tentang siapa yang menjadi jawara dalam dialektika keremajaan pemikiran kita sekarang, dan memberinya hadiah, lantas mengajaknya menjadi warga baru dalam dunia kita yang memerdekakan; membesarkannya dan memugarnya menjadi penghias nisan-nisan kecintaan kita akan toleransi dan kesalingpemahamanan; bukan dalam apologi atau retorika oportunis, tetapi dalam nuansa manusiwai yang fitrah. Bahwa engkau perempuan dan aku laki-laki, itu sungguh jelas, tetapi jangan pula sangsikan jika di dalam dirimu akan kujumpai diriku dan mengajaknya berbincang-bincang tentang keperempuanan, juga engkau yang bisa menemukan sejati keperempuananmu dalam kelaki-lakianku lalu membawanya pergi untuk membongkar konstruksi peradaban tentang keperkasaan dan imperialisme kaum laki-laki. Kita adalah satu meskipun tidak setiap saat menyatu, walaupun juga tidak terpaut jarak diantaranya. Itulah relasi yang memerdekakan; seperti persis yang engkau gelisahkan saat ini dan yang telah merubahmu menjadi batu atau seperti sebongkah es batu; mungkin karena engkau merasa tidak bisa atau belum mampu mendiskusikannya dengan yang lain dan meyakinkan mereka akan kebenaran dan kesungguhan harapan-harapanmu. Tetapi keyakinanmu akan kebenaran harapan2mu kini membuatku percaya bahwa di balik semuanya bersembunyi sembulan-sembulan cahya cinta yang meronakan setiap lekuk tubuh dan mengusapnya dengan lembut, memberinya keteduhan dan segenap kepercayaan akan wujud setiap jejak harapan. Karena semua itu pula, hingga ku berani merangkaikan kata dan menyusunnya menjadi setulus kalimat pengharapan tuk mengajakmu merdeka bersama, menafikkan mereka yang belum mengerti tentang kita apa adanya, menghapus nisan-nisan pemikiran mereka yang telah usang termakan interupsi zaman, dan menyisakan lagi sedikit ruang (tetapi jangan sampai terlampau luas), bagi mereka yang masih polos dan belum saatnya mengerti tentang kita ada apanya…
(astaqauliyah_2puluh3juli2ribu5)Labels: Asri Tadda Qauliyah |
posted with Love @ 10:06 PM   |
|
|
|
| 01 December 2005 |
|
Pada penghujung Ramadhan nan agung. Pada salah satu hari mulia di dalamnya. Di bawah rona mentari pagi yang cerah mencerahkan,kuyakinkan hati 'tuk "meminang" jiwa dan segala yang besertamu,menemaniku berbagi dalam hidup, melewati untai waktu hingga menjadi keabadian;dalam apa yang kita kenal sebagai frase " Manifestasi Kecintaan-Nya"...(Astaqauliyah, 28 Oktober 2005) Labels: Asri Tadda Qauliyah |
posted with Love @ 12:29 AM   |
|
|
|
| 15 November 2005 |
|
Setiap waktu berjejak, terasa cinta ini semakin membekas dalam jauh pada buritan hatiLabels: Asri Tadda Qauliyah |
posted with Love @ 10:36 PM   |
|
|
|
| 10 November 2005 |
| Hiper-endorfinisme |
Izinkan kumencintamu seperti dalam angan yang selama ini telah membesarkan jiwaku... Labels: Asri Tadda Qauliyah |
posted with Love @ 9:35 PM   |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|